Rabu, 04 Januari 2012

Dibalik Nyaringnya Terompet

Tahun baru, Tahun baru identik dengan suara terompet ataupun petasan kembang api. Kebetulan saja belum lama ini adalah hari datangnya menyambut tahun baru 2012. Yang pastinya banjir pesanan kembang api dan terompet. Saya melihat penjual musiman terompet sangatlah bersemangat ketika menjajakan terompetnya. Dengan harga yang tinggi pun konsumen akan mau membelinya karena sudah di anggap tradisi. Akan tetapi, tidak semua penjual terompet bisa menjual habis barang dagangannya sebelum hari penyambutan tahun baru.


Ketika malam tahun baru saya pun keluar rumah dengan bermaksud mengunjungi rumah teman untuk memeriahkannya. seketika dijalan saya masih melihat beberapa panjual terompet yang masih menjajakan terompetnya, hanya terbesit "akh, aji mumpung nih tukang terompet" di pikiran saya. Akan tetapi, saya mulai berubah pikiran ketika sepulang memeriahkan datangnya tahun baru dari rumah teman saya yang tepatnya pukul 02.30 WIB. Saya melihat seorang penjual terompet yang memikul barang dagangannya yang tidak habis.
Ya ! terompetnya tidak habis terjual walaupun tahun baru sudah berlalu. Terdiam ketika melihat si penjual terompet tersebut dan berpikir. Apa rasanya ? ketika orang-orang bahagia tertawa-tawa, saya sedang memikul banyak terompet yang tidak habis terjual. Kesalkah rasanya kepada tuhan ? Adilkah tuhan ? Sungguh mulia si penjual terompet itu di mata saya, yang mungkin dia rela berjualan terompet demi menghidupi keluarganya walaupun kebanyakan orang sedang tertawa sambil menikmati terompet yang di jualnya.

Ambilah pelajaran dari kutipan di atas kawan. Terimakasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar